Keluhan seorang anak itu merupakan ungkapan dari sesuatu gangguan yang terjadi dari fisik atau batinnya. Gangguan emosi dapat terjadi akibat kejadian atau pengalaman yang kurang menyenangkan. Seseorang anak yang berusia empat tahun mungkin tidak mempunyai selera makan akibat sebab -sebab tertentu. Anak yang menderita demam akibat infeksi virus , sakit kerongkongan atau penyakit paru -paru umpamanya akan kehilangan selera makan. Jika dia ditinggalkan di bawah pengawasan orang lain atau pengasuh baru , dia mungkin akan kehilangan selera makan karena belum benar -benar dekat dengan pengasuh barunya. Jika dia memasuki suasana baru yang asing, maka keadaan tersebut juga dapat membuatnya rewel dan berkurang selera makan. seorang anak juga mungkin akan hilang selera makannya kerana sedih akibat kehilangan orang yang disayangi seperti ibu , bapa atau saudaranya .
Keluhan -keluhan seperti kurang selera makan , sakit perut , sakit dada, sakit kepala , masalah tidur malam dan sebagainya bukan saja dapat disebabkan oleh gangguan fisik tetapi juga oleh gangguan emosi anak itu. Walaupun keluhan -keluhan tersebut mungkin berawal daripada suatu jenis penyakit , tetapi dapat menjadi lebih buruk lagi jika si anak terlalu cemas dan mengalami gangguan emosi. Salah satu contohnya adalah apabila seorang anak yang sedang sakit, melihat ibu bapaknya terlalu mencemaskan dirinya, maka perasaan takutnya akan semakin hebat, dan gejala penyakitnya dapat terlihat menjadi lebih buruk. Saat ia dibawa ke dokter, dan ditenangkan oleh dokter, penyakitnya seolah-olah reda walaupun obat belum diberikan.
Penyakit di kalangan anak memerlukan penilaian yang menyeluruh bukan sahaja dari aspek fisik tetapi juga dari aspek latar belakang mereka. Persoalan di rumah , keluarga , riwayat penyakit dalam keluarga dan kepribadian anak tersebut perlu dikaji untuk membantu proses pendiagnosan serta untuk memahami reaksi anak tersebut apabila menderita sesuatu penyakit.
Dibawah ini akan diceritakan satu contoh untuk memberi gambaran bagaimana penilaian yang terperinci terhadap keluhan seseorang anak dari segi fisik , emosi dan sosial dapat mendapatkan hasil kesembuhan yang lebih baik.
Gatot yang berusia enam tahun, kelas 1 SD, dibawa oleh ayahnya ke klinik karena sering mengeluh sakit perut sejak beberapa bulan yang lalu. Akibatnya , Gatot sering tidak dapat masuk ke sekolah dan dalam waktu sebulan yang lalu , dia telah absen selama sepuluh hari.
Ayahnya mengatakan bahawa sebelum ini , Gatot memang jarang jatuh sakit ; sebaliknya dia sangat aktif dan cerdas. Dia memang gemar berteman dan mudah bergaul dengan anak -anak sebayanya. Di sekolah , gurunya mengatakan Gatot adalah seorang murid yang cerdas dan suka bergaul akrab dengan murid -murid lain tetapi sejak empat bulan yang lalu beliau mendapati Gatot seolah -olah suka menyendiri dan kurang memperhatikan pelajaran. Gatot anak tunggal dan memang dekat dengan ibu dan ayahnya. Ayahnya seorang wartawan dan sering bertugas di luar kota , sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga. Sejak beberapa tahun tahun yang lalu, Gatot dijaga oleh seorang pembantu rumah tangga apabila ibu dan ayahnnya tidak ada di rumah. Hubungan Gatot dengan pembantu rumah tersebut juga dikatakan baik. Gatot telah dibawa berobat ke beberapa dokter tetapi sakit perutnya masih juga tidak sembuh. Ayahnya mengatakan bahwa seorang dokter berpendapat bahwa Gatot mungkin menderita penyakit lambung, dan dokter tersebut telah memberinya obat, tetapi ternyata tidak ada perbaikan. . Seorang dokter lain pula mengatakan bahwa Gatot tidak menderita penyakit apapun dan mengatakan keluhan ini akan reda dengan sendirinya. Beliau juga memberikan obat untuk penyakit cacacingan, tetapi juga tidak menolong keluhannya. Keluhan sakit perut Gatot datang dan hilang tidak menentu waktunya.
Adakalanya , ia menyerang pada siang hari selama berjam -jam lamanya. Dia akan mengeluh dan menangis tetapi tidak muntah -muntah atau mencret.Kadang kadang dia mengeluh sakit pada waktu malam. Dalam satu minggu yang lalu , dia pernah mengeluh sakit perut sebanyak empat kali.
Pada itu , Gatot dan ayahnya hadir di klinik saya. Apabila saya bertanya tentang ibunya , ayahnya mengatakan bahwa si ibu sedang kurang sehat dan tidak dapat bersama -sama menemani Gatot ke klinik. Apabila saya melihat riwayat Gatot , ayahnya memberikan latar belakang penyakit anaknya dan menerangkan dengan panjang lebar tentang keluhannya. Bermacam -macam obat telah diberikan untuk menyembuhkan sakit perut tersebut tetapi tidak ada yang berhasil menyembuhkannya. Ayah Gatot telah menerangkan kepada saya bahwa keluhan sakit perut anaknya itu tidak terjadi secara terus menerus. Adakalanya, Gatot mengeluh sakit perut selama dua jam. Setelah itu , dia akan meneruskan aktivititasnya seperti biasa. Adakalanya juga , dia mengeluh pada waktu malam dan setelah perutnya dioles-oles dengan minyak gosok, barulah dia dapat tidur nyenyak. Saya tertarik pada cerita ayah Gatot yang seolah -olah memberi gambaran bahawa ibu Gatot kurang berupaya memberikan perhatian terhadap Gatot. Si ayah menyatakan bahawa sejak empat bulan yang lalu , Ibu Gatot kurang sehat dan sering ke rumah sakit untuk berobat. Apabila ditanya dengan lebih mendalam, dia menyatakan bahawa isterinya yang berusia 30 tahun itu telah didiagnosa oleh dokter menderita sejenis penyakit darah ( Lymphoma hodgkins ) yang menyebabkan dia sering terpaksa pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan suntikan obat dan juga radioterapi. Terlintas di pikiran saya bahwa keadaan ini mungkin ada kaitan dengan keluhan sakit perut Gatot. Walau bagaimanapun, saya terus mendengarkan keluhan Gatot tentang penyakit yang dihadapinya. Gatot sungguh serius mengatakan kepada saya dan menunjukkan ke arah pusatnya sambil berkata, ”Saya selalu sakit di sini , dokter “. Dia tidak pernah menemukan cacing dalam kotorannya. Apabila ditanya tentang suasana di sekolahnya , dia memberikan gambaran seolah -olah dia tidak mengalami masalah apa-apa. Dia hanya menyatakan dia kurang berminat untuk mengikuti pelajaran dan tidak berminat untuk bermain -main dengan kawan -kawannya seperti biasa.
Setelah melakukan pemeriksaan fisik ke Gatot , jelaslah bahwa raut muka anak ini tidak menunjukkan keceriaan. Tetapi ia juga tidak kelihatan pucat. Suhu badannya normal. Tubuhnya tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan berat badan. Pemeriksaan fisik di bagian tubuh lain, termasuk di perutnya juga tidak menunjukkan kelainan. Semuga dalam batas normal. Oleh itu, saya berpendapat Gatot tidak perlu menjalani pemeriksaan y yang lebih khusus pada saat itu. Saya menerangkan pada Gatot bahwa dia tidak menderita suatu penyakit. Ayahnya menanyakan lebih lanjut, dan ingin tahu mengapa anaknya mengeluh sakit perut. Pada saat itu, saya berpikir bahwa saya perlu menanyakan keadaan emosi anak tersebut dari dia sendiri, tanpa didengarkan oleh ayahnya. Maka saya mempersilahkan ayahnya untuk menunggu sejenak di luar, dan saya hanya berbicara dengan Gatot berdua saja.
Perbincangan kami berkisar tentang sekolahnya, pergaulan, keinginan masa depannya dan sebagainya. Akhirnya, saya menanyakan keadaan keluarganya, khususnya hubungan dia dengan ibu dan ayahnya. Dia mengatakan bahawa dalam empat bulan belakangan ini, ia merasa sungguh cemas memikirkan ibunya yang sering terpaksa pergi kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Dia melihat perubahan wajah ibunya yang semakin lemas dari hari ke hari, rambut ibunya banyak yang rontok akibat perawatan radioterapi. Dia khawatir penyakit darah yang dihadapi oleh ibunya dapat membawa kematian. Dia takut kehilangan ibu yang dikasihinya. Dia sangat memerlukan perhatian ayahnya, tetapi ayahnya sering sibuk dengan pekerjaan dan kerap terpaksa bepergian ke luar kota. Ibunya tidak lagi memberikan perhatian sebanyak dahulu kerana sering merasa sakit dan lelah.
Air mata Gatot mengalir deras sewaktu dia menceritakan tentang ibunya. Jelas-jelas saya mengerti bahwa Gatot amat menyayangi ayah dan ibu . Tetapi penyakit yang dialami oleh ibunya sejak empat bulan yang lalu merupakan sesuatu keadaan yang tidak diduga dan amat menekan emosinya.
Perasaan iba juga tergambar dari wajah ayahnya. Keluarga ini sebenarnya sedang melalui satu pengalaman yang pahit dan mereka perlu mencari penyelesaian yang sebaik-baiknya.
Dari kisah Gatot , jelaslah bahwa pengobatan menggunakan obat -obatan saja tidak akan menyembuhkan secara total jika dasar keluhan seseorang anak itu hanya dinilai dari segi fisiknya saja. Jika seorang anak seperti ini berobat ke klinik yang terlalu ramai dan dokter yang merawat hanya sempat meluangkan beberapa menit saja untuk berjumpa dengan si anak , maka biasanya keluhan yang mendasar itu tidak dapat terungkapkan. Akibatnya , keluhan ini akan berkepanjangan dan akan menyebabkan setiap anggota keluarga resah. ]
Keadaan seperti yang dialami oleh Gatot juga memerlukan program perawatan yang dinamakan psikoterapi. Obat -obatan tertentu mungkin dapat digunakan untuk sementara waktu untuk mengurangi perasaan cemas yang dialami oleh anak itu yang menganggu tidur dan aktivitas kesehariannya. Yang juga perlu dilakukan adalah mendapatkan keterangan yang lebih jelas dari dokter yang merawat ibunya, kepada si ayah, dan si ayah dapat menceritakannya dalam bahasa yang sederhana kepada Gatot. Yaitu tentang jenis penyakit yang dialami ibunya , cara pengobatan dan kemungkinan si ibu sembuh dari penyakitnya.
Gatot beserta ibu dan ayahnya juga dapat menjalani terapi keluarga yang memberikan peluang kepada setiap anggota keluarga untuk mengenali diri dan peranannya masing masing dalam rumah tangga, memberikan mereka bimbingan agar dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang dialaminya sekarang. Sehingga seandainya penyakit si ibu terus bertambah parah dan tidak dapat terobati , Gatot dan ayahnya dapat menerima semuanya dengan tabah dan melanjutkan masa depan mereka dengan tegar.
Kisah Gatot ini menunjukkan beberapa hal yang menarik. Keluhan yang dialaminya itu berawal hampir sama dengan mulainya penyakit sang ibu. Ini biasanya terjadi di kalangan anak-anak yang mengalami gangguan emosi. Gangguan emosi biasanya terjadi akibat suatu peristiwa yang menyedihkan , menakutkan atau mengganggu perasaan. Pemeriksaan fisik sering tidak menunjukkan kelainan apa apa. Jika keadaan ini ditemui , dokter perlulah menilai keluhan si anak itu dengan meneliti aspek emosi dan sosialnya, untuk mengetahui atau memahami dasar timbulnya penyakit tersebut.